Popular Products
Popular Products
Powered by Blogger.
Recent Products
Meminta Izin dalam Pandangan Islam
ISLAM merupakan agam yang sempurna. Segala aspek kehidupan di dunia ini telah Islam atur ddengan begitu indah dan spesifik. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Tak terkecuali dengan hubungan sosial. Islam telah mengatur bagaimana seharusnya manusia bersosialisasi. Termasuk mengatur dalam hal meminta izin.
Allah SWT berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (QS. AN-Nur : 27)
Selain itu, Allah juga berfirman,
“Dan jika anak-anak kalian telah sampai pada usia baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang sebelum mereka meminta izin.” (QS. An-Nur : 59)
Adab minta izin ini seperti yang diajarkan oleh Rasulullah adalah tiga kali. Jika setelah tiga kali itu tidak ada seorang pun yang menjawab, maka disunnahkan untuk kembali. Yang menjadi landasan hal itu adalah hadits berikut ini:
Diriwayatkan dariAbu Musa Al-Asy’ari, dia menceritakan, Rasulullah Saw bersabda,
“Meminta izin itu tiga kali, jika diizinkan, maka menjadi hakmu dan jika tidak, maka kembalilah.” (Muttafaqun Alaih)
Berkenaan dengan masalah izin ini, jika dikatakan kepada orang yang meminta: “Siapa?” maka hendaklah dia jawab: “Fulan.” Yaitu dengan menyebutkan nama dan identitas lainnya. Dan Rasululah sangat membenci jawaban: “Saya”, atau “Aku”, atau yang semisalnya.
Dari Abu Dzar dia menceritakan, pada suatu malam aku pernah keluar rumah, tiba-tiba Rasulullah berjalan sendirian. Lalu aku berjalan di bawah pancaran sinar rembulan. Kemudian beliau menoleh dan melihat seraya bertanya: “Siapa itu” aku pun menjawab: “Abu Dzar” (Muttafaqun Alaih)
Dari Ummu Hani, dia menceritakan, aku pernah mendatangi Rasulullah ketika beliau sedang mandi, sedang Fatimah menutupinya, lalu beliau bertanya: “Siapa itu?” “Aku Ummu Hani,” jawabku. (Muttafaqun Alaih)
Dari Jabir, dia bercerita, aku pernah datang kepada Nabi, lalu mengetuk pintunya. Mka beliau bertanya, “Siapa itu?” aku pun menjawab, “Aku.” Maka beliau berkata: “Aku! Aku!” seakan-akan beliau tidak menyukainya. (Muttafaqun Alaih).
Sumber: Fiqih Wanita Edisi Lengkap/SYaikh Muhammad Uwaidah/Pustaka Al-Kuatsar
Terima Kasih Sudah Berkunjung di
Sumber : https://www.islampos.com/
Subscribe to:
Posts (Atom)



